HMIF FamGath 2013

If INF then FORMAT do TIKA write INFORMATIKA IS THE BEST YEAHHH

Lama juga tak mendengar jargon ini. Suatu jargon yang bila diteriakkan di kampus IT Telkom maka langsung menujukan pikiran pada HMIF. Well, 15 dan 16 Juni lalu Divisi External berhasil mengadakan ngumpul bareng veteran-pengurus, namanya HMIF Family Gathering, mau disebut itu boleh, mau dibilang Reuni HMIF sok mangga, mau disebut Nostalgia HMIF karepmu. Intinya membongkar lagi semangat untuk mewujudkan HMIF yang lebih baik #cieleh

Sarapan dulu yukkk

Acaranya dimulai dengan menanti, menanti, dan menanti hingga akhirnya sejumlah komplotan mengadakan sarapan bareng di Fatimah PGA. Siapa lagi kepala sukunya bukan si Alvin. Ternyata ditinggal sarapan (padahal udah jam 10) namun di Fodcourt (tempat nunggunya) masih belum ada indikasi mau berangkat. Well, menjelang dhuhur akhirnya berangkatlah kita ke Villa Bunga.

Untuk angkatan 2008 sendiri yang bisa dateng kebetulan 5 orang, yaitu Alvin, Demsy, Donni, Rachdi, dan saya ^_^. Entah mengapa berasa boyband gitu, apalagi liat foto ini, geuleuh pisanlah..

Dari kiri ke kanan = cakahim#1 (simpatisan TopDewa), cakahim#2 (simpatisan TopDewa juga), cawapres TopDewa, timsukses cakahim#2 (simpatisan TopDewa juga), simpatisan cakahim#1 (simpatisan TopDewa juga)

Leluhur yang lebih sepuh banyak lho, ada kang Adit, kang Ferdian, kang Aji, kang BagRul, kang Tepe, kang Andika dll (dan lainnya lupa)

Kang Adit sedang memperkenalkan diri

Sore itu dimulai dengan perkenalan diri oleh para pengurus serta veteran plus perwakilan dari fakultas, yaitu Bu Tisa dan Bu Gia. Malam harinya, acara makin hangat, kenapa? Pertama diawali pentas seni yang menampilkan berbagai (mantan) artis kampus, hehee. Ada yang hafal lirik ada yang ndengung-ndengung yang penting rame. Tensi belum meredup, sebuah ritual jaga lilin musti kita lakoni :p. Seremoni HUT HMIF ke-20 tahun dimajukan sebulan, mumpung lagi rame ngumpul nih :D
Selesai prosesi (agak) khusyuk itu, berbagai obrolan serius (bahkan tiga rius) dilontarkan mengenai bagaimana HMIF ke depannya, khususnya terkait kaderisasi dan hubungan dengan fakultas.

Pada jaga lilin, lha yang tugas nyari siape dong? 

Walau agak salah dikit, yang penting rotinya enak #gue_ngabisin_paling_banyak

Bagi saya sendiri, terkait ketidakbolehan Mabim bukan hal yang gampang. Itu menjadi PR yang udah terjadi sejak 2010. Berbagai argumentasi sudah diapungkan, tapi ekspektasinya lebih mengambang. Ada faktor akurasi database, yaitu database yang diklaim sebagai bukti kehancuran nilai akademik mahasiswa IT Telkom masih bersifat kotor, artinya mahasiswa yang berpindah kampus masih disertakan plus tidak ada penelusuran apakah mahasiswa yang nilainya bermasalah itu yang aktif mengikuti kegiatan ormawa+ospek ataukah tidak. Hingga kini, riset tentang akurasi database tersebut terbengkalai tanpa tahu arah jalan pulang. HMIF sendiri sebagai himpunan yang membentuk kepanitiaan Mabim memang patut mengupayakan pelaksanaan event Mabim, namun ketika probabilitas terselenggaranya Mabim sebagai event masih kecil, maka langkah realistis yang perlu dilakukan haruslah bijak dan bersifat global. Global di sini dalam konteks, memandang Mabim sebagai sarana untuk mencapai tujuan, tujuannya adalah sistem kaderisasi mahasiswa baru yang berkelanjutan (hingga si mahasiswa menjadi bagian dari HMIF hingga seterusnya). Jika sarana mengalami hambatan, maka akan lebih baik bila HMIF bisa menyusun strategi agar tujuan tetap tercapai dalam kemasan/sarana yang berbeda. Toh, ketika awal Mabim diselenggarakan, iklim dan kondisi rektorat+dekanatnya berbeda dengan yang terjadi saat ini, sehingga perlu adaptasi dengan bagaimana situasi saat ini. Bisa jadi, apa yang menjadi "tujuan" Mabim, dijabarkan dalam suatu event lain ataupun konsep pendidikan lain yang itu diselenggarakan dalam konteks yang wajar dan memperoleh izin dari fakultas/dekanat. 

Khusus untuk tahun ini, akan sulit ketika membentuk kepanitiaan yang instan untuk menyelenggarakan event sekelas Mabim, maka akan lebih realistis bila dilakukan pemetaan antara tujuan (yang tadinya ada di Mabim) dengan perkuliahan mahasiswa baru FIF selama 2 semester. Kemudian lakukan plotting sebagai strategi pendidikan kaderisasi terhadap mahasiswa baru FIF walaupun tidak melalui Mabim.

Ketika satu per satu tumbang lantaran ngantuk, masih ada sejumlah muda-mudi yang main serigala, apaan sih itu? gue juga nggak ngerti.

Pagi harinya, acara bersifat santai dengan olahraga dan jalan-jalan keliling villa bunga.

Foto bareng di depan villa

Jalan-jalan sekitar villa pun masih direcoki kenarcisan

Menjelang siang, acara pun diakhiri. Namun sebagian masih berkeliaran untuk dateng walimahan kang Kusuma Eka di Kiaracondong.

Banyak inspirasi yang saya petik dari acara dua hari ini, apa aja? Saya wakilkan dengan sebuah senyuman ^_^

Makan Bangkai

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang
(QS Al Hujurat : 12)

Keutamaan Para Penghafal Al-Qur’an

**Keutamaan di Dunia**
1. Menghapal Al Quran merupakan keutamaan rabbani yang datang dari Allah SWT.
Bahkan nikmat menghapal Quran sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapat wahyu.
Rasulullah SAW menjelaskan, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian hanya saja tidak diwahyukan kepadanya. Tidak pantas bagi hafidzh quran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirnya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim)

2. Seorang hafidz quran adalah orang yang mendapat penghargaan khusus dari Nabi SAW
Diantara penghargaan nabi yang pernah diberikan nabi kepada sahabat penghapal quran adalah perhatian yang khusus kepada syuhada Uhud dengan mendahulukan pemakamannya dan dalam pengiriman delegasi Rasulullah memilih orang yang paling banyak hafalannya sebagai delegasi.

“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Quran, ketika ditunjuk salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak umlahnya, kemudian Rasulullah mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampaikanlah pada Shahabi yang paling muda usaianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab, “Aku hafal surat ini..surat ini..dan surat Al Baqarah.”Benarkah kau hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

3. Menghapal Al Quran merupakan ciri orang yang diberi ilmu
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.” (QS Al-Ankabut : 49)

4. Hafidz quran merupakan keluarga Allah di muka bumi
Daripada Anas ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli quran (orang yang membaca atau menghapal quran dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad)

5. Menghormati hafidz quran berarti mengagungkan Allah
Daripada Abu Musa Al Asya’ari ra ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al Quran tidak diamalkan serta menghormati kepada penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

6. Al Quran menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Mereka lebih berhak menjadi iman sholat
Daripada Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasulullah SAW beliau bersabda:
“Yang menjadi imam dalam sholat suatu kaum adalah yang paling banyak hapalannya.” (HR. Muslim)

**Keutamaan di Akhirat**

1. Al Quran akan menjadi syafaat bagi penghapalnya
Dari Abi Umamah ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, “Bacalah Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafal).” (HR. Muslim)

2. Hifdzul Quran akan meninggikan derajat manusia di surga
Dari Abdillah bin Amri bin ‘Ash dari nabi SAW. Ia bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib quran, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau mentartilkan Al Quran di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Para ulama menjelaskan arti shahib Quran adalah orang yang hafal semuanya atau sebagian, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya, dan berakhlak seperti isinya.

3. Penghafal Quran bersama para malaikat yang mulia dan taat
“Dan perumpamaan orang yang membaca Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatNya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih)

4. Bagi para penghafal Quran akan diberikan mahkota kehormatan
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Baginda bersabda, orang yang hafal Al Quran nanti akan datang dan Al Quran akan berkata: “Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.”Maka orang tersebut diberikan makhota kehormatan. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahkanlah pakaiannya.” Maka orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan, redailah dia.” Maka kepadanya dikatakan, “Baca dan naiklah.” Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan.” (HR. At Tirmidzi)

5. Orang tua memperoleh pahala khusus jika anaknya penghafal Al Quran
Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran”. (HR. Al Hakim)

6. Penghafal Quran adalah orang yang tidak rugi dalam perdagangannya
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir : 29-30)

Ada beberapa keutamaan-keutamaan yang lain yang haditsnya dhaif, antara lain penghafal Al Quran tidak pernah pikun, akalnya selalu sehat, dapat memberi syafaat pada sepuluh orang keluarganya, orang paling kaya, doanya selalu dikabulkan, dan pembawa panji-panji Islam.

Referensi :
1. http://barkahqordhofa.wordpress.com/2009/01/31/keutamaan-penghapal-al-quran/
2. http://www.hafizpage.tripod.com/keutamaan_penghafaz.htm
3.http://eidariesky.wordpress.com/2009/06/21/keutamaan-menghafal-al-qur%E2%80%99an/
By: IN disadur dari http://mqitt.wordpress.com/2009/12/09/keutamaan-para-penghafal-al-quran/

Bukan Sekedar Diucapkan 17 kali Sehari

Ada serangkai doa yang dilafalkan minimal 17 kali sehari, yaitu "tunjukilah kami jalan yang lurus; (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat", ini adalah penggalan dari Surat Al Fatihah 6-7.

Doa yang mulia
Doa yang penuh kerendahan hati dalam mengakui Allah sebagai penguasa hati tiap insan
Doa yang diawali berbagai pujian dan penghambaan atas kebesaran Allah
Bila doa tersebut tidak dihayati maupun tidak diucapkan dengan kesadaran, maka godaan untuk "berbelak-belok" akan terus melambai


#AyoPerbaikiDiri #AyoMenyebarManfaat

Apa itu e-Agriculture?

Berikut beberapa definisi dari e-agriculture yang dikutip dari beberapa referensi :

e-Agriculture adalah bidang yang muncul sebagai perpaduan/irisan informatika pertanian, pembangunan pertanian dan kewirausahaan, mengacu pada layanan pertanian, diseminasi teknologi, dan informasi yang disampaikan atau ditingkatkan melalui Internet dan teknologi terkait. Lebih khusus lagi, melibatkan konseptualisasi, desain, pengembangan, evaluasi dan inovatif cara untuk menggunakan teknologi informasi yang ada atau muncul (FAO, 2005).

e-Agriculture adalah bidang yang muncul untuk meningkatkan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan melalui proses-proses untuk akses pengetahuan dan pertukaran menggunakan informasi dan komunikasi (e-agriculture.com, 2006)

Dalam rencana aksi WSIS, berisi e-agriculture sebagai bidang aplikasi TIK :

  • Memastikan penyebaran sistematis informasi menggunakan TIK pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan makanan, dalam rangka memberikan akses siap untuk komprehensif, up-to-date dan pengetahuan rinci dan informasi, khususnya pedesaan.
  • Kemitraan pemerintah dan swasta harus berusaha untuk memaksimalkan penggunaan TIK sebagai instrumen untuk meningkatkan standar produksi, pemasaran dan keamanan pangan. dan TIK.
·         
Electronic agriculture (e-agriculture) adalah proyek membangun sebuah database yang mengumpulkan sejumlah besar data dari stakeholder seperti berbagai instansi pemerintah, kearifan lokal, pasar, ladang petani, dan lain-lain (Rassameethes, 2007).

e-Agriculture dan e-Agribusiness pada dasarnya adalah pemanfaatan ICT dalam bidang pertanian atau bisnis di bidang pertanian. Dengan kata lain e-agribusiness adalah e-business di bidang pertanian. (Ingale et al, 2007).

Pemanfaatan TIK dalam bidang pertanian sering dinamakan e-agriculture atau e-agribusiness. Pengertian e-agriculture atau e-agribusiness sering diambilkan dari definisi e (electronic) dalam konsep Information and Communication Technology, yaitu kegiatan pertanian dan/atau agribisnis yang memanfaatkan keunggulan ICT seperti komputer, internet, piranti lunak (softwares) dan piranti keras (hardwares), radio, televisi dan perangkat IT lainnya, serta orang yang mengoperasikan ICT tersebut (Soekartawi, 2007).

Catatan 12 Juni malam hari

55 pesan dari 3 percakapan pada WhatsApp muncul di layar ponsel saya yang bernama "Samsul".
Salah satu percakapan adalah grup SC PDKT tahun lalu. Ada isu menarik yang dibahas, yaitu rencana pengubahan beberapa "kebiasaan" ospek yang memang kontroversi dari tahun ke tahun, yaitu

  1. Tidak ada lagi pemisahan maba dengan miba, toh pada kondisi nyata di kampus mahasiswa/i akan bercampur satu sama lain. Jadi aturan pemisahan tsb tidak logis dan tidak relevan.
  2. Jilbab selama ospek tidak diwajibkan menjulur panjang (red-menutupi dada dan lebar), ini dianggap menopengkan miba dalam berpenampilan, karena dipaksa mengenakan jilbab tersebut selama ospek.
  3. Jam malam yang sebelumnya jam 21.00 akan diperpanjang karena dalam berkuliah pun seringkali tugas kelompok larut malam

Komentar pertama saya mungkin simpel "lha, saya yang selama ospek sering tidur ya jelas malulah kalo ampe keliatan lagi ngiler ama miba" hahaa...

Okey, ini beberapa sudut pandang saya, mungkin subjektif, ya terserah, setidaknya saya jujur ^_^

Kalau memang ospek hanya digunakan sebagai pengenalan kondisi kampus, ya silahkan saja. Tapi bila memang ada iktikad baik untuk memperbaiki kondisi individual dan massal, maka pertimbangkanlah matang-matang aturan yang dibuat. 


Memang budaya di kampus selama ini sring memaksa bergadang mengerjakan tugas dari bada Isya hingga Dhuha (Dhuha? YA saya tekankan hingga Dhuha, ini pengalaman nyata bro #nglirik asdos KMA #nengok pembimbing TA). Tapi apakah hal itu baik? Apalagi dalam mengerjakan tugas kelompok ada perbedaan kebiasaan, ada yang tidak masalah mengerjakan hingga larut malam, ada yang tidak, ada yang ngekos di sektiar kampus, ada yang ngelaju dari Bandung, ada yang ketahanan fisiknya bagus ada yang tidak, dan masih beragam lagi. Silahkanlah dengan kematangan berpikir untuk menimbang-nimbang apakah budaya demikian termasuk layak dibudidayakan tanpa menimbang keberagaman mahasiswa. Jika memang itu budaya yang baik, silahkan untuk dikenalkan dengan cara yang baik. Jika memang itu budaya yang kurang baik, silahkan jadikan ospek untuk memperbaiki budaya tersebut.


Kalau memang ospek tahun ini dijadikan ajang balas dendam dalam mendominasi kampus, maka sungguh malangnya nasib ribuan anak manusia yang menjadi korban perebutan pengaruh

Orientasi dalam menerapkan sebuah peraturan bukanlah "pesanan" ataupun "titipan sponsor" yang tidak dipahami apa maksudnya. Orientasi paling utama tetaplah kepada Allah SWT. Salah besar bila mengasosiasikan jilbab lebar dan menutupi dada sebagai "trendmark" sebuah organisasi tertentu, karena itu adalah perintah dari Allah. Jika itu sudah menjadi perintah dari Allah, kenapa kita mengabaikannya? Jika kita punya kesempatan menyebar kebaikan kenapa tidak bersungguh-sungguh menjalankannya?
Memang background kebiasaan berbusana mahasiswi baru berbeda-beda, karena itulah pergunakan metode pendidikan yang cerdas. Berikan "nutrisi" tentang keutamaan jilbab sebagai aturannya. Lho kok nyrempet agama? Kan salah satu dasar penyelenggaraan kaderisasi itu berdasarkan prinsip ketuhanan. Lho tapi kan kita panitia kurang kompeten untuk mengajarkan? Ada waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk menjadi pendidik mahasiswa/i baru. Sekali lagi jika orientasinya karena Allah, maka insyaAllah apa yang dilakukan tidak ada motif politik kampus.

Berpikirlah cerdas... Cerdas itu punya bukti penelitian yang relevan dalam membandingkan situasi

Berkuliah itu ruangannya ukuran seberapa? Bandingkan dengan tempat penyelenggaraan ospek
Berkuliah itu satu tempat berapa orang? Bandingkan dengan jumlah peserta ospek
Berkuliah itu pembicaranya orang berkompeten dengan kekuasaan mengatur ketenangan peserta rapat? Bandingkan dengan pembicara ospek yang hanya berbicara tanpa punya kewajiban mengatur ketenangan peserta
Lantas apakah salah membandingkan ospek dengan suasana perkuliahan? Tidak salah, sangat tidak salah. Hanya saja lihat parameter ataupun konteks yang dibandingkan. Jangna mentah-mentah membandingkan.
Kemudian jika akan menganalisis plus minusnya sebuah peraturan tahun lalu, maka analisis kenyataan ospek di tahun lalu seperti apa. Jika memang akan ada berbagai sanksi macam push up, maka pertimbangkan pengaturan barisan selama pelaksanaan push up.

Adakan analisis kondisi calon peserta

Cerdas itu juga tidak mengada-ada. Maksudnya bagaimana? Memang panitia ospek punya pengalaman pribadi sebagai peserta ospek, tapi apakah punya data berupa karakter yang akurat tentang kondisi maba/miba? Jangan-jangan hanya asal mengira-kira. Karakter maba seperti apa sih? Karakter miba seperti apa sih? Pasti dan jelas berbeda. Jangan terburu-buru mengejar deadline kepanitiaan.
Ibaratnya mau menerapkan aturan tapi tidak tahu kondisi orang yang mau diatur seperti apa.

Bertanggungjawablah terhadap aturan yang dibuat

Jam malam yang diperlonggar berpotensi pada meningkatkan risiko kerawanan atas keamanan peserta di luar kegiatan ospek. Memang, secara jadwal itu bukan agenda ospek, namun jika terjadi permasalahan dikarenakan hal terkait ospek, misalnya mengerjakan tugas, maka panitia selaku pembuat kebijakan harus bersedia ikut bertanggung jawab.

Okey...dilanjur lain kali...

On the Way Home" by Dewa Budjana

Salah satu lagu instrumen yang menjangkiti saya. Pertama kali denger audionya dari kos kawan saya di Jababeka. Entah kenapa saya langsung demen ama ni lagu. Rasanya syahdu, mungkin karena perpaduan elektrik dengan etnik, salah satu konsep bermusik favorit saya.



Modelling Web Application

Pemodelan aplikasi website merepresentasikan perencanaan website, baik statis maupun dinamis ditinjau dari konten, hypertext, presentase, dan hal-hal lainnya. Secara fundamental, dapat ditentukan ruang lingkup berdasar skema orthogonal yang dijelaskan Gerti Kappel pada buku Web Engineering, The Discipline of Systematic Development, of Web Applications berikut:

Ortogonal 3 Dimensi Pemodelan Aplikasi

Pada phase (fase), pertama kali dilakukan adalah fase analysis, khususnya kebutuhan dan solusi yang dipergunakan dalam website nantinya. Fase berikutnya adalah design, yaitu perancangan prototipe berdasar analisis yang dilakukan tadi yang kemudian diakhiri fase implementation (implementasi), yaitu penerapan ke dalam website.

Di bagian level ada dua tingkatan, yaitu user interface serta application logic. Model pada user interface ditinjau dari sudut pandang pengguna website, misalnya pemilihan warna tampilan, pembagian elemen window. Sedangkan pada application logic, pemodelan mengacu pada proses-proses yang dilakukan aplikasi, misalnya melalui diagram konteks, diagram navigasi. Sudut pandang lojik ini bertujuan menguraikan tipe desain untuk diimplementasikan dalam hubungan struktur status.

Sementara itu, pada aspect, perlu diperhatikan dua aspek, yaitu behavior (tingkah laku) dan structure (struktur). Pemodelan behavior umumnya dibuat dengan use case serta UML, sedangkan pemodelan structure dapat dilakukan dengan misalnya dengan data flow diagram, entity relationship diagram.

Untuk melakukan proses pemodelan, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
  • Berisi representasi domain informasi, fungsionalitas software, serta tingkah laku software
  • Pemisahan representasi-representasi tersebut
  • Bergerak dari intisari menuju implementasi

Tujuan pemodelan adalah mendeskripsikan aplikasi yang dibuat serta menarik batasan dalam website tersebut. Hal ini lebih mengarah pada manajemen ruang lingkup dan menjadi acuan apakah aplikasi yang dibuat mengalami pelencengan atau tidak.

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [5]

Rukun iman kelima adalah iman kepada hari kiamat.

Hari akhir dunia yang fana? Kapan? Wallahualam...
Bahkan ketika akal manusia membuat kalender, baik Hijriyah yang mencapai tahun 1434 maupun Mashehi 2013 tahun, namun tidak bisa mengetahui kapan berakhirnya kedua kalender tersebut alias berakhirnya dunia fana ini. hari tersebut dalam Al Qur'an disebutkan dalam berbagai nama lain, diantaranya yaumul qiyamah (hari kiamat), al-qoriah yaumul hisab (hari perhitungan amal), al-haqqaah (yang pasti terjadi), al-ghasiyah (hari pembalasan), ath-thamah (malapetaka yang sangat besar).

Lantas seperti apakah kaitannya pernikahan sebagai manifestasi iman kepada hari kiamat?

Pertama, segala niat, perkataan, dan perilaku kita dalam menjalankan ibadah bertajuk pernikahan akan menemui pembalasannya di hari kiamat. Hal ini merupakan keniscayaan, karena di hari akhir nanti, seluruh umat manusia akan dihisab seluruh amalannya, baik yang mulia maupun yang tercela, bahkan sekecil buah zarah, termasuk pula yang berkaitan dengan amanat sebagai suami/istri.

Kedua, segala amalan yang kita lakukan akan terputus ketika kita meninggal. Artinya ketika maut menjemput, tamat pula upaya kita untuk menyemai amalan. Tapi dengan kemurahan Allah, masih ada tiga jalur untuk mengalirkan amalan walau kita telah berada di alam kubur, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Ketiga jalur ini menjadi isu yang perlu direnungkan, apakah pernikahan yang hendak atua mungkin telah dibangun mengarahkan kita untuk memperoleh ketiga hal ini? 
Benarkan pernikahan hingga akhirnya kita mempunyai keturunan nantinya menjadikan kita tetap istiqomah dalam menyebarkan ilmu-ilmu bermanfaat? Atau malah pernikahan menjadi alasan untuk lari alias pensiun dari dakwah? 
Benarkan keluarga tersebut mampu secara konsisten beramal jariyah? Padahal secara kalkulasi kasar, kebutuhan berumah tangga terus melonjak sedangkan pendapatan stagnan? Atau malah keinginan membahagiakan pasangan hidup menjadikan lalai untuk berbagi pada sesama manusia? 
Yakinkah kalau putra/putri yang kita didik ini menjadi keturunan yang sholeh/sholehah, yang senantiasa berbakti mendoakan kedua orang tuanya? 
Teorinya memang sulit sukar susah, tapi bukankah Allah bersama orang-orang yang mau berikhtiar dan bertawakal kepada-Nya

Ketiga, keluarga merupakan investasi bagi seorang pemimpin rumah tangga. Sabda Rasulullah "Setiap orang diantara kalian adalah pemimpin, dan masing2 dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban (oleh Allah) ttg apa yg dipimpinnya."

Wallahualam

(Belum) Mau Gantung Keyboard

Menulis...
Itu salah satu hobi saya, ada beberapa jenis menulis yang saya suka walaupun tidak berarti saya membatasinya :

Pertama, menulis sajak, kebiasaan ini muncul sejak kelas 6 SD, aku masih ingat puisi pertama berjudul Seperti Bintang dan entah kemana bukti kertas otentiknya. Ada suatu keasyikan tersendiri menulis kalimat-kalimat penuh majas dan tentunya penuh #KODE #hahahaaa#ketawalicik. Kadang penginnya dijadikan lagu, namun apa daya kemampuan imajinasi lebih kuat daripada kemampuan memainkan instrumennya. Kalau selama SMP dan SMA sendiri sektiar 300-400 sajak sudah saya telorkan, namun begitu kuliah kurang terarsipkan dengan baik. Mempublikasikannya di media sosial ataupun blog emang banyak isiko, tapi karena saya belum punya niat mengkomersilkan buah imajinasi saya, ya it's OK lah I don't have feeling about it, mungkin kalau ada yang mengklaim buatan dia ya barulah aku kirim kamehame spesial buat dia.

Kedua, menulis pengalaman masa lalu ataupun ide masa depan, kadang narcis sih, ya harapan saya tulisn jenis ini bisa memacu kedisiplinan dalam#eaaa#malah_doa_waktu_upacara, harapan saya tulisan jenis ini bisa membuat saya ingat momen-momen berharga (dan takkan ternilai dengan nominal) bersama sahabat saya maupun wujud-wujud lain anugerah-Nya serta memotivasi menggapai target yang sudah saya tuliskan. Memang ada yang berupa cerita gagal, tapi segagal-gagalnya suatu target bukankah akan menjadi baik bila bermanfaat dan menginspirasi :)


Ketiga, share informasi, yang ini dapat dibilang lebih bersifat "crawling" alias cenderung copy-paste, tapi saya cantumkan ko sumbernya, kategori ketiga ini didominasi tulisan tentang Islam, TIK, serta IPU (Ilmu Pengetahuan Umum), yapss, seneng rasanya bisa berbagi hal yang positif dan bagi saya itu adalah dakwah, bahkan ketika saya share hal yang bersifat TIK dan IPU bagi saya itu dakwah karena TIK dan IPU pada dasarnya adalah ilmu yang dianugerahkan oleh-Nya dan ketika berbagi ilmu didasari ikhlas insyaAllah akan ditambahkan ilmu kita oleh-Nya



Keempat, menulis ilmiah, lhaa ini nih lantaran saya terperosok dalam ekskul KIR di SMA dan tidak pernah memenangkan gelar juara apapun (paling banter peringkat 5 T_T) maka ketika kuliah getolllll sekali rasanya untuk membuat suatu karya tulis, tahun pertama ikutan lomba menulis namun cuma dapet piagam, tahun kedua nihil, tahun ketiga ikutan lomba karya tulis di GemasTIK gagal, tahun keempat plus semester 9 jadi pelampiasan untuk menuntaskan rasa penasaran. Alhamdulillah Allah memudahkannya dengan memberi kado berupa ikut serta konferensi/seminar sebagai pemakalah di SNATI 2012, IISF 2012, KNK 2011, KNSI 2013, dan walau hanya meraih gelar finalis, alhamdulillah GemasTIK menjadi torehan yang berkesan



Kelima, menulis administrasi organisasi, yapsss, sejak menjadi Kerani alias sekretaris putra, rasanya hati ini jatuh cinta dengan hal-hal berbau administrasi organisasi, #ihirrrr#apaandah seriusan lho ini, malah kadang ngerasa gatel kalo liat organisasi yang acak adul administrasinya :(


Keenam, ngoding, yapss, ngodinggg, entah dosa apa yang membuat saya terus berkutat dengna berbagai bahasa pemrograman, tapi jika itu dijalani bukankah artinya kita menyebar manfaat?

Namun, seriring berjalannya waktu, tentu kembali pada salah satu filosofi hidup, yaitu Hidup adalah Pilihan (lagu KLa Project juga nih). Ya... hidup itu pilihan sehingga harus berani mengambil keputusan #jrengjengjeng yaitu menentukan prioritas yang harus dilakukan, bukan berarti saya harus menggantung keyboard.
Memang berat ketika harus melepas salah satu target untuk sementara, tapi percayalah keikhlasan kita akan menjadi pemantik konsistensi kita dalam bertawakal kepada-Nya sehingga makin dekatlah kita kepada Illahi. Dengan rutinitas  yang seabrek, yaitu kerja, tidur, makan, tidur, kerja, makan, tidur #busetttt #ini_hidup_ala_Kintaros hehee, yayayaa, menulis memang menjadi passion, namun perlu dikurangi mengingat ada prioritas yang harus ditekuni dan dipertanggungjawabkan di tempat mengais nafkah, maka semoga Allah mengizinkan saya bisa menulis tentang karya ilmiah, baik itu paper, esai, thesis di kesempatan yang tepat. Tulisan jenis ini dibanding kelima lainnya jelas paling menguras konsentrasi

Angan yang Terapung [versi 1]

Bintang...
Hanya ulurkan kerlip
Bulan...
Acapkali separuh bentuk terangnya

Mendung
Ibaratkan kelam siap hujamkan air mata
Dan hujan tanpa pelangi
Luruhkan s'gala anganku kepakan sayap

Serpihan hati yang terpuruk
Aku punguti rangkaikan sebuah angan
Puzzle semangat yang terkoyak
Aku rekatkan walau entah kepastian gunanya

Dan sekujur benak diayun bimbang
Apungkan asa yang enggan terwujud

Deralah ingatan pada mimpi
Agar dunia nyata saja yang dikecap
Membujur sebongkah kepataharangan
Diiringi sumbangnya kepenatan

Adab Bercanda dalam Islam

Mungkin kita pernah mendengar seseorang berkata “Jenggotmu makin panjang aja, kayak embek” atau ketika ada akhwat bercadar lewat dikatakan “Awas…awas…ada ninja lewat” dengan nada bercanda. Atau perkataan seperti “Eh gua dulu dong, yang tampangnya jelek belakangan” kepada teman kuliah saat sedang antri bayar SPP. Atau kadang kita bercanda “Eh, naik mobil gua yuk, tapi mobilnya masih di toko”. Terdengar biasa saja?

Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya dituntut untuk bisa berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena manusia tidak bisa  hidup sendiri, melainkan butuh orang lain dalam memenuhi hajat-hajat hidupnya. Untuk bisa melahirkan seorang manusia saja,  seorang ibu butuh seorang suami. Saat lahir pun akan membutuhkan bantuan dari bidan atau dokter. Dan seterusnya sampai kita dewasa pasti akan membutuhkan peran orang lain dalam hidup kita.

Maka, seorang manusia sejatinya harus bisa berinteraksi dengan manusia yang lain dengan baik. Membangun keakraban,  membangun suasana kekeluargaan, menjalin persahabatan. Rasulullah pun memerintahkan kita untuk menjadi orang yang suka bergaul di masyarakat dengan baik : “Mukmin yang bergaul ditengah-tengah masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar dengan gangguan orang” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath)

Dalam bergaul, kadang diperlukan bumbu-bumbu agar muamalah tidak membosankan, tidak kaku dan supaya mudah tercipta keakraban. Bumbu-bumbu tersebut kadang berupa candaan. Bisa berupa plesetan, humor, tingkah yang lucu, sindiran dan segala macam bentuk canda yang bisa mencairkan suasana. Tentu saja hal ini adalah perkara mubah, boleh-boleh saja.

Bahkan Rasulullah pun suka bercanda. Anas ra. Meriwayatkan bahwa pernah ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah agar membawanya di atas kendaraan. Kemudian Rasulullah berkata: “Aku akan membawamu di atas anak unta”. Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian Rasulullah berkata: “Bukankan yang melahirkan anak unta itu anak unta juga?” (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad yang shahih)

Namun seringkali dalam kenyataannya, banyak sekali candaan-candaan yang melewati batas dan tidak sesuai dengan akhlak Islami yang hanif. Seringkali candaan mengandung unsur kebohongan, mengolok-olok ajaran agama, menyakiti perasaan teman, tertawa berlebihan dan kebatilan-kebatilan lain. Seringkali candaan jadi apologi seseorang untuk berbuat buruk. Misalnya ia mencela  seseorang kemudia nketika orang tersebut tersinggung pencela tadi berdalih “Saya khan cuma bercanda”. Sungguh ini sebuah kezhaliman. Padahal Rasulullah sendiri dalam bercanda pun tetap tidak keluar dari batasan-batasan akhlak Islami. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Ya Rasulullah, sungguh engkau sering bergurau dengan kami”. Kemudian Rasulullah berkata “Tapi, sungguh aku tidak mengatakan kecuali kebenaran”. (HR Tirmidzi, Hadist hasan). Maka bercanda pun ada adabnya.

1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah Rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.

Di zaman Rasulullah pernah ada beberapa orang dari kaum Muslimin yang bercanda dengan berkata bahwa tidak ada orang yang lebih penakut dan berperut buncit seperti para penghafal Qur’an itu (Rasulullah dan para sahabat). Kemudian ada sahabat yang mendengarkan hal tersebut kemudian dilaporkan kepada Rasulullah. Kemudian turunlah ayat: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? “. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At-Taubah: 65-66).

Rasulullah pun tidak mema’afkan mereka walau mereka berdalh hanya bercanda saja. Karena ajaran agama ini adalah ajaran yang suci yang turun dari Allah, sekecil apapun itu. Maka barang siapa menghina ajaran ini, sama saja dengan menghina Allah SWT dan Rasul-Nya. Misalnya orang yg menghina seseorang yang memanjangkan jenggotnya karena mengikuti sunnah dengan berkata “Jenggotmu panjang sekali, mirip embek(kambing) “. Maka sama saja ia mencela orang yang telah mencontohkan hal tersebut, yaitu Rasulullah SAW. Hal-hal lain yang sering dicela dalam candaan misalnya: * Akhwat yang memakai cadar * Hadist tentang adanya syetan menjadi pihak ketiga bila seorang laki-laki berduaan dengan wanita non-muhrim. Mereka (orang-orang jahil) mengatakan bila ada temannya yang datang mengganggu aktifitas khalwat mereka, maka dialah syaitannya. Sungguh ini candaan yang bathil. * Ikhwan yang meninggikan pakaiannya di atas mata kaki. * Ucapan salam “Assalamu’alaikum” yang sering dibuat-buat supaya
terdengar lucu. * Dll

2. Hendaknya percandaan itu tidak mengandung dusta.

Hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan atau berbohong supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia.

Mencela atau menyakiti perasaan tidak dihalalkan diantara sesama mukmin. Hendaknya setiap orang menjaga perasaan saudaranya dalam setiap keadaan, baik bercanda ataupun bukan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela” (Al-Hujurat : 11)

Misalnya dengan berkata “Yang bertampang jelek minggir dulu” atau “Hei hitam, kalau malam jangan keluar rumah, nanti tidak terlihat”. Sekalipun hanya dalam candaan, celaan tetap akan menyakiti hati dan berbekas dihati. Lebih khusus mengenai ini   Rasulullah memperingati: “Janganlah seorangdi antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani). Hadist ini mengingatkan bahwa dilarang berbuat zhalim dalam bercanda, apakah itu mengambil  barang, menyakiti hati, menyakiti fisik atau semacamnya.

4. Bercanda tidak dengan semua orang.

Maksudnya, dalam bercanda harus pilih-pilih. Tidak semua orang suka dibercandai dan bercanda bisa saja menimbulkan mudharat (keburukan) bila dilakukan dengan orang-orang tertentu, misalnya wanita yang bukan mahram. Bercanda berlebihan dengan wanita non-muhrim akan menimbulkan fitnah. Maka sebaiknya dibatasi kadar dan intensitasnya. Begitu pula kepada orang yang lebih tua, tentunya sikap yang utama adalah santun dan berlemah lembut. Adapun bila ingin bercanda perlu disesuaikan jenis candaannya agar tidak mengurangi rasa hormat kita.

5. Tidak bergaya menyerupai wanita (atau laki-laki).

Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya seperti wanita. Baik pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi, hadist shahih). Sungguh aneh, saat zaman dahulu di negeri kita ini banci atau bencong menjadi hal yang tabu, namun di masa ini malah menjadi hal yang biasa saja dan malah jadi bahan candaan. Padahal hal tersebut mendapat laknat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah akhlak seorang muslim yang hanif. Tidaklah melakukan sesuatu melainkan itu sebuah kebaikan, baik dalam bekerja, melihat, mendengar juga dalam berbicara. Sesuai dengan sabda Rasulullah: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Cuma ada 2 pilihan, berkata yang baik, kalau tidak bisa maka diamlah. Para ulama yang shalih menganjurkan agar tidak memperbanyak canda dan tidak berlebihan dengannya. Baik dalam bermuamalah, dalam menuntut ilmu apalagi dalam berdakwah. Karena seseunggunnya hal tersebut dapat menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang melalaikan diri dari mengingat Allah.

(Diambil dari Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh
Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan
Muslim Sehari-hari dengan penambahan)

sumber : http://copha.multiply.com/journal/item/4/Adab_Bercanda

Wallahualam

Latihan Ngedosen

Dosen a.k.a lecturer
That's my vision
That had been written in my master plan that I placed 5 years again.

Kenapa sih pengen jadi dosen ve?
Emang lw pantes jadi dosen?
Mau jadi kayak apa mahasiswa lw?
dan masih banyak pertanyaan lebih tepatnya mosi tidak percaya

Kenapa pengin jadi dosen?
Bagi ahli biologi mungkin berupa faktor warisan dari kakek dan ibu yang seorang guru, waduh ntar darah petani dari ayah bisa complain nih.
Bagi seorang muslim, berbagi ilmu adalah yang mulia karena bisa mengabdikan sebagai orng yang bermanfaat dimana sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat.
Dari sisi histori mungkin karena sejak tahun ketiga saya mulai akrab dengan beberapa dosen seperti pak Agung, pak Mahmud, pak Suyanto, pak Kemas, pak Dawam, pak Rizal, pak Heroe, bu Endang, bu Ima, bu Ayu, udah-udah jangan disebut semua, ntar jadi presensi dosen. Rasanya pengin juga jadi dosen, dekat dengan mahasiswa (sosok yang semangat, muda, berkarakter, tangguh, ga kenal putus asa, beraneka ragam, sedang mencari jati diri+potensi diri), dari segi berbagi waktu dengan keluarga pun "tampak" nyaman.

Emang lw pantes jadi dosen?
Lha emang dulu gw pantes jadi mahasiswa IT Telkom? Kepantasan itu diukur dari niat tulus serta komitmen untuk selalu membenahi/memperbaiki diri. Memang bagi ex-mahasiswa dengan IPK ngepas, sering berkutat dengan perulanagan beberapa mata kuliah, pengalaman riset di lab yang minim, hal-hal itu jelas menjadi kekurangan, tapi itu kondisi saat S1, masih ada kesempatan S2 untuk mematangkan diri dan mengukur secara pribadi kelayakan diri ini. InsyaAllah pengalaman "mengajar" sekecil apapun akan menjadi modal yang berharga. Semoga kesempatan "berceloteh" di Hikari dan "ngoceh sambil ngoprek" topik TA bareng beberapa teman bisa bermanfaat sebagai pendongkrak kapabilitas diri. Rasanya seneng ey bisa ngoceh ama teman tentang tugas akhir sebagai pembimbing ketiga yang tidak formal.

Mau jadi kayak apa mahasiswa lw?
Lha mereka mau jadi apa dulu? Belajar dari pengalaman, mahasiswa itu terbagi 4, yaitu sudah tahu bakat dan sedang fokus ke bakat itu; punya target tapi masih bingung cara mencapainya; bingung target tapi punya keinginan menelusurinya; serta absurd sama sekali. Masing-masing perlu penanganan berbeda, but semua itu perlu dikembalikan pada niat awal. Dari segi legalitas, perlu dipahami output dan outcome perkuliahan tersebut berdasarkan kurikulum apa serta diskusi di awal semester bersama mahasiswa, apa yang mereka harapkan dari mata kuliah ini, apakah keinginan itu relevan ataukah tidak, serta yang paling utama, budaya apa yang menjadi kesepakatan ditumbuhkan selama perkuliahan.

Bagaimana cara lw menjadi dosen?
Pertama, minta restu orang tua, alhamdulillah orang tua mempersilahkan saya mengikhtiarkan apa yang menjadi keinginan saya, minta izin ke istri jelas belum masuk hitungan karena status di e-KTP saya masih "belum menikah".
Kedua, cari info mengenai kualifikasi dosen dan berbagai hal seputar dosen, misalnya apa enak dan tidak enaknya, ya istilahnya carierpath nya seperti apa sih
Ketiga, cari info beasiswa S2, berhubung masih berpasan (ada hal yang perlu ditabung lebih dulu), maka saya harus memposisikan diri sebagai pemburu beasiswa S2 di bidang ilmu komputer/informatika (serta variannya) yang gratis, di luar negeri alhamdulillah, di dalam negeri alhamdulillah.
Keempat, men-tawakal-kan diri pada skenario-Nya dimana muara hidup ini adalah hidup mulia lalu meninggal khusnul khotimah, artinya segala rencana perdosenan perlu dipersiapkan sebagai perwujudan hidup yang mulia

Bismillah

Review Rantau 1 Muara

Alhamdulillah kesampaian juga bisa beli buku dengan keringat sendiri (maksudnya gaji lho ya, bukan saya ngumpulin air keringet trus dituker  ama buku di gra*med)

Well, seperti biasa, buku ini memang "nohok" banget ceritanya. Bisa dibilang novel yang "nohok" buat saya itu baru Trilogi 5 Menara serta Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Tatkala melahap Negeri 5 Menara (yang persis belinya pas ulang tahun di Kota Tegal), rasanya seperti sedang SMA dengan sosok di situ terbayang beberapa teman dan berbagai "kerasnya" dunia SMA yang rasanya "deja vu". Ranah 3 Warna? Waoww, novel yang saya dapatkan saat hari pertama KP di Semarang ini pun kerasa nendang banget, kenapa? Saat KP, tingkat kegalauan saya terhadap dunia kuliah sedang fluktuatif (kadang menukik hingga titik nadir, kadang melonjak). Memang ada perbedaan, si Alif Fikri beasiswa ke Kanada, lha saya? cuma bikin paper ke Yogya ama Bandung (itu aja setahun kemudian). Rasanya pailit finansial di tanah rantau, menohoknya pergulatan hati (ceileh bahasa lhee).

Dan di Rantau 1 Muara ini memaparkan kondisi setelah Alif Fikri lulus lantas meretas karir sembari mencari belahan jiwa, nah ketiganya ini (bukan cuma poin ketiga) pas pake bangete dengan saya di 2013 ini. Lulus dengan predikat standar aja, alhamdulillah setelah ditolak sana-sini akhirnya memperoleh kesempatan mengadu nasib di Jakarta, mmmm untuk yang mencari belahan jiwa saya skip dulu y.

Entah lantaran saya yang punya karakter langsung mudah terbayang visual tatkala membaca sesuatu, muncul berbagai sosok di dunia nyata persis ketika mengikuti alur cerita di sini. Di tempat kerja mendadak terbayang wajah-wajah di kru ID Kreatif, tim IT, membaca nama Aji langsung terbayang mas Aji, CEO Lare Angon, nah untuk karakter Dinara please jangan tanya ataupun japri nanyain y..please..

Untuk cover novel Rantau 1 Muara, wiwww, warnanya agak biru-biru torkuis, salah satu warna kesukaan saya, kemudian kata Rantau yang sudah akrab di telinga saya sejak 2008 justru dipadukan dengan Muara, kosakata yang sedang dalami sekitar 3 bulan ini. Tampaknya novel ini muncul di momen yang tepat ketika perlu rujukan mengenai hakikatnya muara hidup. Meskipun ini novel (setengah) fiksi, namun pesan moral di dalamnya sangat riil. Porsi penggunaan dialek Minang pun masih mudah dicerna (apa karena saya keseringan komunikasi dengan orang Minang y?)  Kalau boleh jujur, novel itu cukup memuat berbagai istilah yang sebenarnya "dakwah". hal itu tercermin di beberapa petuah di akhir buku.

Kekurangan tentu ada, beberapa yang belum terungkap di sini adalah bagaimana berbakti kepada orang tua dalam kondisi LDR, bagaimana mempersiapkan sebuah pernikahan, serta profil rinci 6 personel 5 menara. Padahal penasaran ey terhadap ketiganya.

La Fuerza de la Amistad

La fuerza de la amistad

Siempre juntos vamos a estar,
con la fuerza de la amistad
nada nunca nos separara
jamas

Todos juntos vamos a estar
con la fuerza de la amistad
todos juntos siempre hasta el final
veras

Es la unica manera de poder llegar
solo con la amistad
no nos separaran
juntos hasta el final
hasta poder llegar

Debes creer en
la fuerza de la amistad

Los problemas no nos detendran
con la fuerza de la amistad
soluciones siempre encontraras
veras

Con tu ayuda mas facil será
con la fuerza de la amistad
todos juntos siempre hasta el final
ahah

Has caso a tu sentidos
dame la mano y ven conmigo


Solo con la amistad
no nos separaran
juntos hasta el final
hasta poder llegar

Debes de pensarlo
y poder lograrlo

Con la fuerza de la amistad
siempre juntos vamos a estar
la unica manera que hay
siempre seran

Translation
Kekuatan Persahabatan

Kita akan selalu bersama
dengan kekuatan persahabatan
tidak pernah memisahkan kita
tak pernah

Kita semua akan bersama
dengan kekuatan persahabatan
Selalu bersama-sama sampai akhir
kebenaran

Ini satu-satunya cara untuk mencapai
hanya persahabatan
tidak memisahkan kita
bersama-sama sampai akhir
sampai kau bisa mendapatkan

Kau harus percaya pada
kekuatan persahabatan

Masalah tidak akan menghentikan kita
dengan kekuatan persahabatan
selalu menemukan solusi
kebenaran

Dengan bantuanmu akan lebih mudah
dengan kekuatan persahabatan
Selalu bersama-sama sampai akhir

Anda mendengarkan indramu
mengambil tanganku dan datang padaku saya

Hanya persahabatan
tidak memisahkan kita
bersama-sama sampai akhir
sampai kau bisa mendapatkan

Kau harus berpikir
dan untuk mencapai

Dengan kekuatan persahabatan
kita bisa bersama selamanya
satu-satunya cara yang ada
akan selalu

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [4]

Rukun iman keempat adalah iman kepada rasul dan nabi yang diutus oleh Allah, sebagaimana “Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya Maka Sesungguhnya kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.”(QS.Al-Fath:13)

Sebagaimana iman kepada Allah, malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya yang saling terkait, begitu pula iman kepada nabi dan rasul mempunyai keterkaitan dengan ketiga poin iman di atasnya, termasuk di dalamnya dalam konteks menikah sebagai representasi rukun iman. Hal ini pun termaktud dalam sebuah hadis “tidaklah Allah mengutus seseorang nabi kepada suatu umat, kecuali wajib baginya untuk menunjukknya umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang dia ketahui.”(HR,Muslim).

Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kita sendiri telah memberikan berbagai pengarahan mengenai berbagai adab dalam kehidupan sehari-hari. Ada adab tentang berpakaian, adab tentang jual-beli, hingga tentang interaksi laki-laki dan perempuan. Berbagai adab tersebut bermuara pada penghambaan kita terhadap Allah SWT. Berbagai arahan tersebut diriwayatkan ke dalam hadis-hadisnya sebagai tuntunan hidup umat Islam yang kedua setelah Al Qur an. Mengimani nabi dan rasul tentu di dalamnya termasuk mengakui hadis sebagaimana kebenaran periwayatannya, lantas apa hubungannya dengan menikah?

Sebagaimana telah disinggung bahwa berbagai adab berkenaan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk menikah. Nabi Muhammad SAW pun telah memberi bagaimana cara kita memilih pasangan hidup. Bahkan sebelum memilih pasangan hidup, adab pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya pun turut diaturnya. Hal ini jelas untuk menjaga kehormatan diantara keduanya.

Apa yang menjadi kewajiban serta hak entitas di dalam berumah tangga telah diatur melalui ajaran Nabi Muhammad SAW, hal tentunya menjadi pedoman bagi insan manusia dalam mengelola rumah tangga. Jelas hal ini menjadi panduan (guidelines) bagi umat muslim agar dapat menuju apa yang sering didoakan tatkala memulai pernikahan, yaitu keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Bagaimana keluarga tersebut dibangun atas dasar ibadah kepada Allah SWT tentu, bagaimana menumbuhkan dan menjaga rasa sayang antara suami-istri serta bagaimana menempatkan diri dengan baik.

Jadi apakah penting iman kepada Rasul dan Nabi sebagai manifestasi rukun iman?
1. Memahami tuntunan Nabi Muhammad SAW (karena kita umatnya) dalam memulai dan mengelola rumah tangga
2. Menjadi tuntunan bagaimana mendidik seorang anak agar bisa menjadi kader Islam yang taat dan terjaga akhlaknya
3. Menghindarkan diri dari berbagai ancaman luar yang mengganggu akhlak anggota rumah tangga

Wallahualam

Pelajaran Hari ini

Insiden dokumen softcopy hilang kembali terjadi di lapak ini. Well, dalam standardisasi pendokumenan sebuah organisasi, BACK SANGAT PERLU. Dan campak bahwa BACK UP GA CUMA SATU FILE DISALIN KE SATU LAPAK LAIN, AT LEAST 2 LAPAK.

kedua?

Himura Kenshin pernah terlunta-lunta ketika melawan Hajime Saito di dojo Kamiya. Pertarungan yang berakhir imbang tersebut benar-benar membuka mata Kenshin bahwa lawannya saat itu, Saito, maupun calon lawan-lawannya nanti, yaitu Makoto Shishio beserta Jupongatana telah berkembang kemampuan bertarungnya. Alhasil Kenshin pun memutuskan diri untuk lenyap mengasingkan diri untuk mengembangkan diri agar bisa menembus batas kemampuan yang sebelumnya telah diciptakannya. Tak hanya sekali memang, namun pada akhir pengasingan diri pertamanya, dia mendatangi Saito untuk berangkat menuju pelabuhan guna melawan Shishio, dan Saito sangat merasakan aura yang berbeda pada diri Kenshin dibandingkan saat laga di Kamiya dimana Kenshin tampak lebih siap bertarung.

MPTI...RPL...Logmat...hasil yang C dan di kemudian hari berhasil diulang dengan hasil lebih baik
Probstat...Kalku2...PBDR...SBD...AlStrukdat... remuk dan di kemudian hari berhasil ditebus, baik dengan hasil cukup maupun baik

Kesempatan kedua, apakah memang seperti itu cara saya mengais kesuksesan? Rasanya terlalu subjektif bila seenaknya mengeluh. Itu peran Allah? Tentu, namun ikhtiar saya jelas menjadi pertimbangan Allah dalam mempertimbangkan apa yang baiknya dan terbaik untuk saya.

Bismillah, sampai jumpa di hari nanti atau malah bulan nanti...
Ketika Allah mengizinkan saya seikhlas hati ikhtiar kedua kalinya

Video Lucu tapi Keren Life in Technicolor

Asli pertama ngeliat video ini gabisa komentar apa-apa...
Kenapa? Gokil abis idenya...



4 golongan

Golongan di sini bukanlah golongan Alkali, Alkali tanah, Halogen dsj, melainkan terkait kepribadian mereka terhadap Al Quran

Perumpanaan seorang mu'min yang rajin membaca Al Quran adalah seperti buah Al Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak.
Perumpanan seorang mu'min yang tidak membaca Al Qur an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis.
Perumpanaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al Quran adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit.
Sedangkan perumpamaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al Quran adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit
[Al Bukhari 5427, Muslim 797]

Semoga kita termasuk yang diperumpamakan sebagai Al Atrujah ^_^

Musim Terakhir di Paradewa

mp3 berjudul Mahameru dengan vokal Ari Lasso (versi Dewa) berdendang di laptop cokelat ini. Di akhir selalu terucap sebuah kata "Paradewa". Entah kebetulan atau tidak, bagi saya Paradewa mempunyai sebuah arti. Arti yang lebih dari sekedar seongok bangunan di PGA Recidence. Paradewa merupakan rumah yang penuh kenangan.

Mungkin banyak yang menganggap Paradewa bahwa bagi saya hanya tempat naruh baju dan numpang mandi. Well, terserah kata orang, namun bagi saya, Paradewa mempunyai makna lebih dari sekedar tempat berteduh. Di Paradewa inilah banyak kisah-kisah yang penuh intrik dan kebanyolan khas anak rantau.

Mei 2008, si ganteng dari Tegal (sebut saja ive) memberanikan diri menyusuri kota Bandung ditemani kaka kelasnya (sebut saja "Ridwan"), hendak  mencari kos rupaya, tempat yang kebetulan dimasuki adalah suatu bangunan yang lumayan terang dengan aprkiran di dalam dan lebar. Lantaran sudah penuh maka urunglah niat si ganteng bersemayam di situ.

Mei 2009, dalam nuansa panitia PDKT 2009 saya kenal dengan Wahyu alias WEPE dan Carte di kepanitiaan PDKT, ternyata keduanya berasal dari kos yang bernama Paradewa. Entah apa yang menyebabkan mereka begitu kompak, menurut pengakuan dan kenarcisan mereka, itu karena faktor kos "Paradewa". Paradewa? Apaan tuh? Semacam Parasetamol kah? Ternyata itu nama kosan. Seorang pemuda lugu asal Semarang (sebut saja Wisnu) berhasil digaet untuk menjadi penghuni di situ. Dan ko si Wisnu jadi ikutan kompak dengan mereka ya? Entah ... Namun beberapa kali saya diminta main ke Paradewa untuk diskusi tentang PDKT dengan kang Wepe, dari situlah saya baru tahu kalau Paradewa itu kos yang dulu saya hendak di situ namun penuh. Ohhhh

April 2010, kondisi kosan di kosan saya kala itu lumayan tidak kondusif, maka melalui informasi yang saya dapat langsung dari kang Wepe, akhirnya saya memutuskan hengkang ke Paradewa, alasan utama, banyak yang kenal di situ. Ada kang Wepe, bang Carte, Wisnu, dan bang Eri. Sejak saat itulah berbagai memori seputar Paradewa menghiasi hari-hari sang mahasiswa pencari IPK ini. Mulai dari Paradewa yang memang cuma sebagai tempat naruh pakaian doank, hingga Paradewa, khususnya ruang P207 menjadi sarangnya saya berkreativitas dengan sisi introvert saya.
Pelanginya indah sekali... subhanaAllah
Suatu sore saat hari-hari terakhir menjelang hengkang ke Jakarta

Foto terakhir sebelum benda-benda itu diberesi


Salah satu kenangan yang mungkin (atau bahkan pasti) saya kangenkan adalah nonton bareng bola di aula. Aula... ya di situlah saksi Barca membantai Madrid 5-0, Barca diinjak Chelsea 2-2, Madrid digebuk Muenchen adu penalti, lalu gantian Madrid melumat Barca 3-1, Barca diremukkan Muenchen 0-4. Kenapa kebanyakan tentang Barca dan Madrid, ya tentu karena tiga penghuni terdekat dengan aula adalah 2 orang Cules dan 1 orang Madridista. Dan sore hari di Paradewa sembari menikmati sajian Liga Indonesia pun turut memberi masa lalu yang kocak, kenapa kocak? Satu, satu kos yang suka Liga Indonesia cuma saya, Dua, di semester akhir saya acap meluangkan waktu (aslinya sih ngluyur di pertengahan kuliah) untuk nonton Sriwijaya FC berlaga.

Kenangan lain apa ya? Tentunya ketika "piknik" ke Brebes untuk mengunjungi walimahannya Bang Eko. Perjalanan yang penuh canda dan keabsurdan. Gak nyangka juga si abang yang kamarnya persih di bawah kamar saya dan sering main PES di aula ternyata mau nikah. Well, belakangan kamarnya (yang kosong diakuisisi oleh Wisnu).

Masa iya penghuni Paradewa lupa ama Miyu. Miyu? Ya Miyu, kucing kesayangan Wisnu yang kerap menjahili saya kalau hendak makan di tengah aula. Kucing lucuuuuuu banget.
Miyu dengan pose jelalatannya

Bicara kenangan dan inspirasi jelas tidak lengkap tanpa menyebut P207 sebagai sarang inspirasi, 
Pintu menuju kamar saya (sebelah kiri)

Seinget saya sih, saya jarang beli buku, ko lumayan banyak begitu ya? Mana ada yang tentang grafcit n basdat lagi ? =_=

Orang-orang hebat itu yang menjadi inspirasi saya ketika bangun pagi dan berevaluasi diri tiap malamnya

Sisa-sisa terbitan dipajang sebagai bukti kesibukan saya pada orang tua

  • tempat saya tertawa ketika nonton berbagai film kocak, 
  • tempat saya "lupa besok ada UTS/UAS" ketika malah nonton Kamen Rider, 
  • tempat saya nangis ketika bersembunyi dari berbagai kegetiran hidup yang keras, 
  • tempat saya mengetik berbagai rangkaian tugas akhir
  • tempat saya tiba-tiba dirasuki ide-ide kreatif
  • tempat saya mengurung diri ketika kepribadian introvert benar-benar mencengkram
  • tempat saya memasang berbagai foto-foto kebersamaan dengan kawan-kawan seperjuangan di berbagai organisasi dan kepanitiaan
  • tempat saya menggantung baju yang sering berantakan hahaa
  • tempat saya "ngaca" ketika hendak kuliah
  • tempat saya kelabakan mencari kacamata bila hendak kuliah
  • tempat saya berbaring seharian pasca insiden 17 April #entah kronologisnya gimana
  • tempat saya yang hanya ada seekor kucing dan seorang Wisnu yang berani memasukinya
  • dan tempat saya ... (dan tak terhitung memori indah di sana)


16 Januari 2013 mungkin menjadi momen yang paling gila dalam karier saya di Paradewa, rencana tidur setengah 9 yang saking gundahnya menjelang sidang esok harinya, justru membuat saya baru bisa tidur setengah 12.


Dan ini yang paling utama, yaitu orang-orangnya. Thanx banget kepada kamar sebelah Acho Paliwan atas segala bantuan dan support-nya untuk TA saya, diskusi tentang per-KBM-an plus rivalitas el classico diantara kita, Wisnu sebagai teman sharing TA yang luar biasa perjuangan dan kegigihannya, salutlah buat kau Nu, para alumni yang udah berserakan di mana-mana, ada kompetitor ketampanan, bang Eri, tukang ngledek terkoplak, bang Carte, yang paling lurus, kang Wepe, sesepuh paling nyante, bang Kimung, serta alumni-alumni lainnya, bang Okta, bang Jono, serta para generasi penerus, Ilham "tukang PLN", Aji "Wisnu Junior", Fahmi, Adi dan kembarannya Ari, Anggit.
Bang Kimunk diwisuda di kosan oleh para sesepuh Paradewa ^_^

Saya abis pelantikan Saka Kominfo jadi ngantuk gitu

Aula tengah yang penuh kenangan 

Bila lagu Jikustik berisi lirik "meski aku tak lagi di situ... tolong ingat-ingatlah aku... demi senja dan secangkir teh hangat kusempatkan berkunjung pulang... kawan aku pulang

Maka biarlah segala kenangan itu terpatri dimana Paradewa bukan hanya identitas untuk ditulis di CV, tapi memang itulah rumahku di Bandung.

Tertaut di Masjid

Artikel ini terinspirasi dari pertanyaan teman saya tentang siapa sih yang dimaksud orang yang tertaut hatinya di masjid. 
Apakah orang yang rumahnya dekat dengan masjid? 
Apakah orang yang senantiasa menyumbangkan harta untuk pembangunan masjid? 
Apakah orang yang membaktikan dirinya menjadi dewan kemakmuran masjid? 
Apakah orang yang mengajar TPA di masjid?
Apakah seorang pengembara yang menginap di masjid terus?
Atau malah jangna-jangan orang yang menemukan jodohnya di masjid?

Kita tinjau sebuah hadis 
Tujuh golongan manusia yang akan diberi perlindungan oleh Allah dalam naungannya di hari yang tiada naungan melainkan perlindungan Allah itu sendiri iaitu:1. Imam (pemimpin) yang adil,2. pemuda yang sentiasa beribadat kepada Allah,3. lelaki yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid,4. dua orang yang saling cinta mencintai kerana Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah,5. seorang lelaki yang diajak oleh wanita rupawan serta berkedudukan tinggi untuk melakukan zina, lalu ia menjawab, “Aku takut kepada Allah”, 6.seseorang yang bersedekah dengan sesuatu sedekah lalu menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, 7.seseorang yang mengingati Allah di tempat yang sunyi lalu mengalir air matanya. ”(Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Perlindungan dari Allah merupakan karunia sangat-sangat berharga di akherat nanti. Maka tentu yang dimaksud orang yang tertaut/terpaut hatinya di masjid jelas "orang pilihan" yang teruji melalui berbagai ujian yang pada akhirnya mendekatkan hatinya sebagai mukmin yang taat untuk beribadah kepada-Nya melalui masjid sebagai rumah Allah.

Imam Nawawi menerangkan dalam kitabnya syarhun-nawawi lil-muslimtentang sabda Nabi: “seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid” : yaitu orang yang sangat cinta masjid dan selalu sholat berjamaah di dalamnya, bukan siapa-siapa yang hanya sering duduk atau berdiam di masjid. (sumber)

Sedikit vs Banyak

Mau yang Sedikit atau yang Banyak??
Banyak merupakan kata sifat yang kualitatif, susah ngukurnya. Sebagai analogi, gaji 3 juta per bulan bagi seorang dokter muda di Ponorogo jelas rasa "banyak"-nya akan berbeda dengan gaji 3 juta per bulan seorang Xavi Hernandez. Yang satu merasa banyak yang satu merasa kurang. Well, sebenarnya itu hanya selingan di awal.

Namun mau bagaimanapun secara kasat mata kita pasti sepakat bahwa "banyak" merupakan kumpulan dari "sedikit". Sebagai contoh, percayakah ada seseorang yang kuliahnya 40 juta? Apapun jawabannya, seorang S1 dengan SPP 5 juta maka total SPP selama 8 semester sudha mencapai 40 juta. Jelas, matematika sederhana menunjukkan demikian. Lantas apa yang menarik bila kita tarik ke dalam amalan harian kita?

Ayo kita tengok target ibadah pribadi kita, pasti sangat sangat ambisius. Pengin hafal Al Quran? Iyo... Pengin rajin puasa ampe yang sunnah? Tentu... Pengin naik haji? Pasti... Pengin dapet Lailatul Qodr?Aamiin dan sebagainya

Namun kendala terbesar terdapat pada faktor "transformasi", tentu tidak mengacu pada tagline "I transform, u transform, we are transformers".

Boleh jadi... kita ngerasa ada di lingkungan (termasuk orangnya) yang kurang mendukung kita untuk bertransformasi
Boleh jadi... kita belum ngerasa perlu untuk berubah, istilahnya "ah masih ada tahun depan kok"
Boleh jadi... kita belum yakin dengan konsisten kita di kemudian hari
Dan masih ada berjuta-juta kilobyte alasan tersimpan di benak kita...

Lantas apakah kita harus menyerah dan melambaikan tangan pada segala target-target mulia kita? Menyerah? Kenapa harus menyerah? Ini bukan UTS ataupun UAS yang kalau tidak bisa menjawab maka sia-sia segala perjuangan kita.

Dalam konteks ibadah, yang menjadi penilaian Allah itu tidak hanya hasil, namun juga proses. Ketika ada proses yang tidak diketahui Allah, ketika ada pengorbanan yang hanya dipendam di kalbu maka Allah pun mengetahuinya.

Nah, sedikit tips dari temen yang sangat jitu untuk diterapkan agar bisa memperbaiki diri dalam meningkatkan target-target adalah prinsip "perlahan namun pasti".
Perlahan? Kenapa perlahan? Mau berapa lama? Eitsss, tunggu dulu, kita telisik dulu penjelasannya.

Perlahan tapi pasti di sini bukan berarti kita pelit dalam bertransformasi, kagak gitu. Dalam transformasi di sini, kita awali dengan membuat sebuah visi hendak seperti apa ibadah yang ingin kita konsistensikan. Jabarkan ibadah tersebut ke dalam beberapa langkah peningkatan. langkah-langkah peningkatan tersebut kemudian cantumkan target waktu pencapaiannya. Absurd? Mari tinjau contohnya di bawah.

Misal mempunyai target hafal Al Qur'an. Target jangka panjang ingin hafal berapa lama sih? Misal 5 tahun. Karena ayat Al Qur'an terdiri atas 6666 *CMIIW*, maka bagi 6666 dengan 5 tahun, didapatkan 1333,2, artinya tiap tahun harus hafal 1333,2 ayat. Kita pecah lagi per hari dimana satu tahun setara 365 hari, maka satu hari targetnya 3,6526 (1333,2 div 365), kita bulatkan menjadi 4 ayat. Empat ayat per hari bro. Sanggup ga? Memang ada ayat yang pendek (nan favorit) ada juga yang panjang. Ya itu kembali bagaimana sudut pandang kita hendak menyikapi positif atau tidak. 

Misal kita punya target rutin sholat sunnah rawatib, ini bisa dilakukan bertahap. Misalnya di 3 hari pertama rutin dan mantapkan sholat sunnah badiyah Maghrib, 3 hari berikutnya ditambahkan dengan sholat sunnah badiyah Isya, dan terus hingga seluruh sholat sunnah rawatib tertunaikan.

Keunggulan sistem perlahan yang kedua terdapat pada kesederhanaan dan kemampuan membiasakan diri yang lebih bisa terserap. Kebanyakan transformasi yang bersifat mendadak justru menimbulkan kekagetan secara fisik dan manajemen waktu. Alhasil konsistensi justru menjadi labil.

Semoga bermanfaat, wallahualam.